Rabu, 08 Februari 2017

Kriteria Jamban Sehat

 Judul asli tulisan ini adalah Kriteria, Standar dan Komponen sanitasi Jamban. Naskah asli dapat di peroleh di http://www.indonesian-publichealth.com/sanitasi-jamban/?utm_medium=twitter&utm_source=twitterfeed.

Sanitasi sesuai nomenklatur MDGs adalah pembuangan tinja. Termasuk dalam pengertian ini  meliputi jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset yang digunakan dan jenis tempat pembuangan akhir tinja. Sedangkan kriteria akses terhadap sanitasi layak jika penggunaan fasilitas tempat BAB milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis ‘latrine’ dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau sarana pembuangan air limbah (SPAL). Sedangkan kriteria yang digunakan JMP WHO-UNICEF 2008, sanitasi terbagi dalam empat kriteria, yaitu ‘improved’, ‘shared’, ‘unimproved’ dan ‘open defecation’. (Depkes RI, 2010).

Jamban merupakan fasilitas atau sarana pembuangan tinja. Menurut Kusnoputranto (1997), pengertian jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran sehingga kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab suatu penyakit serta tidak mengotori permukaan. Sedangkan pengertian lain menyebutkan bahwa pengertian jamban adalah pengumpulan kotoran manusia disuatu tempat sehingga tidak menyebabkan bibit penyakit yang ada pada kotoran manusia dan mengganggu estetika.

Rekan-rekan Sanitarian tentu sudah paham, bahwa dampak buruk jamban terhadap penularan penyakit, menyangkut transmisi penyakit dari tinja. Berbagai penyakit menular seperti hepatitis A, polio, kholera, dan lainnya merupakan penyakit yang terkait dengan akses penyediaan jamban. Dan sebagai salah satu indikator utama terjadinya pencemaran karena tinja ini adalah bakteri E.Coli. Sebagaimana rekan-rekan Sanitarian ketahui escherichia coli hidup dalam saluran pencernaan manusia.





Diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya proses penularan penyakit antara lain kuman penyebab penyakit, sumber infeksi (reservoir) dari kuman penyebab, cara keluar dari sumber, cara berpindah dari sumber ke inang (host) baru yang potensial, cara masuk ke inang yang baru, serta inang yang peka (susceptible). Sedangkan proses pemindahan kuman penyakit dari tinja sampai inang baru dapat melalui berbagai perantara, antara lain air , tanah , makanan, tangan, atau serangga.

Fungsi jamban dari aspek kesehatan lingkungan antara lain dapat mencegah berkembangnya berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia. Sementara dampak serius membuang kotoran di sembarang tempat menyebabkan pencemaran tanah, air dan udara karena menimbulkan bau. Pembuangan tinja yang tidak dikelola dengan baik berdampak mengkawatirkan terutama pada kesehatan dan kualitas air untuk rumah tangga maupun keperluan komersial.

Selain menyangkut perilaku buang air besar masyarakat yang belum semuanya menggunakan jamban, kita juga dihadapkan pada masih banyaknya jumlah jamban yang tidak memenuhi standar. Banyak di masyarakat jamban unimproved atau jamban yang tidak sehat. Sebagai Sanitarian kita harus paham berbagai informasi terkait jamban, baik kriteria maupun prosedur pemeliharaannya, diantaranya persyaratan pembuangan tinja. Menurut Kumoro (1998), terdapat beberapa bagian sanitasi pembuangan tinja, antara lain :

Rumah Kakus: Berfungsi sebagai tempat berlindung dari lingkunagn sekitar, harus memenuhi syarat ditinjau dari segi kenyamanan maupun estetika. Konstruksi disesuaikan dengan keadaan tingkat ekonomi rumah tangga.
Lantai Kakus: Berfungsi sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya harus baik, kuat dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Konstruksinya juga disesuaikan dengan bentuk rumah kakus.
Tempat Duduk Kakus: Fungsi tempat duduk kakus merupakan tempat penampungan tinja, harus kuat, mudah dibersihkan, berbentuk leher angsa atau memakai tutup yang mudah diangkat.
Kecukupan Air Bersih: Jamban hendaklah disiram minimal 4-5 gayung, bertujuan menghindari penyebaran bau tinja dan menjaga kondisi jamban tetap bersih. Juga agar  menghindari kotoran tidak dihinggapi serangga sehingga dapat mencegah penularan penyakit.
Tersedia Alat Pembersih: Tujuan pemakaian alat pembersih, agar jamban tetap bersih setelah jamban disiram air. Pembersihan dilakukan minimal 2-3 hari sekali meliputi kebersihan lantai agar tidak berlumut dan licin. Sedangkan peralatan pembersih merupakan bahan yang ada di rumah kakus didekat jamban.
Tempat Penampungan Tinja: Adalah rangkaian dari sarana pembuangan tinja yang berfungsi sebagai tempat mengumpulkan kotoran/tinja. Konstruksi lubang harus kedap air dapat terbuat dari pasangan batu bata dan semen, sehingga menghindari pencemaran lingkungan.
Saluran Peresapan: Merupakan sarana terakhir dari suatu sistem pembuangan tinja yang lengkap, berfungsi mengalirkan dan meresapkan cairan yang bercampur tinja.
Selain Sanitasi tinja diatas, kita juga harus paham berbagai jenis jamban keluarga. Menurut Azwar (1990), terdapat beberapa jenis jamban, antara lain :
  1. Jamban cubluk (Pit Privy): adalah jamban yang tempat penampungan tinjanya dibangun dibawah tempat injakan atau dibawah bangunan jamban. Fungsi dari lubang adalah mengisolasi tinja sedemikian rupa sehingga tidak dimungkinkan penyebaran dari bakteri secara langsung ke pejamu yang baru. Jenis jamban ini, kotoran langsung masuk ke jamban dan tidak terlalu dalam karena akan menotori air tanah, kedalamannya sekitar 1,5-3 meter (Mashuri, 1994).
  2. Jamban Empang (Overhung Latrine): Adalah jamban yang dibangun diatas empang, sungai ataupun rawa. Jamban model ini ada yang kotorannya tersebar begitu saja, yang biasanya dipakai untuk makanan ikan, ayam.
  3. Jamban Kimia (Chemical Toilet): Jamban model ini biasanya dibangun pada tempat-tempat rekreasi, pada transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang dan lain-lain. Disini tinja disenfeksi dengan zat-zat kimia seperti caustic soda dan pembersihnya dipakai kertas tissue (toilet paper). Sedangkan jamban kimia ada dua macam, yaitu tipe lemari (commode type), dan tipe tangki (tank type). Jamban kimia sifatnya sementara, karena kotoran yang telah terkumpul perlu di buang lagi.
  4. Jamban Leher Angsa (Angsa Trine): Jamban leher angsa merupakan jamban leher lubang closet berbentuk lengkungan, dengan demikian akan terisi air gunanya sebagai sumbat sehingga dapat mencegah bau busuk serta masuknya binatang-binatang kecil. Jamban model ini adalah model yang terbaik yang dianjurkan dalam kesehatan lingkungan.
Menurut Depkes RI (2004), terdapat beberapa syarat Jamban Sehat, antara lain :
  1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak 10-15 meter dari sumber air minum.
  2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus.
  3. Cukup luas dan landai/miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah di sekitarnya.
  4. Mudah dibersihkan dan aman penggunannya.
  5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna.
  6. Cukup penerangan
  7. Lantai kedap air
  8. Ventilasi cukup baik
  9. Tersedia air dan alat pembersih.
Manfaat dan Fungsi Jamban Keluarga
Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan memenuhi syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu :
  1. Melindungi kesehatan masyarkat dari penyakit
  2. Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan saran yang aman
  3. Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit
  4. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan
Sedangkan prosedur pemeliharaan jamban menurut Depkes RI (2004) adalah sebagai berikut:
  1. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering
  2. Di sekeliling jamban tidak ada genangan air
  3. Tidak ada sampah berserakanan
  4. Rumah jamban dalam keadaan baik
  5. Lantai selalu bersih dan tidak ada kotoran yang terlihat
  6. Lalat, tikus dan kecoa tidak ada
  7. Tersedia alat pembersih
  8. Bila ada yang rusak segera diperbaiki
Refference, antara lain :
  • Azwar, A, 1990,  Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara, Jakarta.
  • Kusnoputranto, H, 2000. Kesehatan Lingkungan, FKM-UI Jakarta
  • Riskesdas 2010


Selasa, 18 Agustus 2015

Pemeliharaan Kakus



Beberapa kegiatan yang dianjurkan dalam pemeliharaan sarana pembuangan tinja adalah sebagai berikut:
·         Pembersihan halaman di sekitar rumah jamban dari sampah dan tumbuhan rumput yang tidak dikehendaki.
·         Pembersihan lantai, dinding, dan atap rumah jamban secara teratur, minimal satu minggu sekali, dari lumut, debu, tanah atau sarang laba-laba.
·         Penggelontoran tinja pada lubang pembuangan tinja atau leher angasa setiap selesai penggunaan.
·         Pemantauan isi lubang jamban pada jamban cubluk, jamban air, jamban bor, dan jamban kompos secara berkala terutama pada akhir periode pemakaian yang direncanakan.
·         Pemantauan isi tangki pembusukan secara berkala (setiap 12-18 bulan pada tangki pembusukan rumah tangga dan tiap 6 bulan pada tangki pembusukan   sekolah dan kantor pelayanaan umum) untuk menjaga efisiensi kerjanya, lakukan pengurasan bila kedalaman busa serta lumpur sudah melebihi batas yang dipersyaratkan.
·         Hindarkan pemasukan sampah padat yang sukar atau tidak dapat diuraikan (kain-kain bekas, pembalut, logam, dan sebagainya) dan bahan kimia yang beracun (karbol, lysol, formalin dan sebagainya) kedalam lubang jamban atau tangki pembusuk.

Syarat – Syarat Bangunan Jamban :
·         Harus tertutup, artinya bangunan tersebut terlindungi dari pandangan orang lain, terlindungi dari panas dan hujan, serta terjamin privacynya.
·         Bangunan kakus ditempatkan pada lokasi yang tidak sampai mengganggu pandangan, menimbulkan bau, serta tidak menjadi tempat hidupnya berbagai macam binatang.
·         Bangunan kakus memiliki lanati yang kuat, mempunyai tempat berpijak yang kuat, yang terutama harus dipanuhi jika mendirikan kakus model cemplung.
·         Mempunyai lubang closet, melalui saluran tertentu dialirkan pada sumur penampung dan atau sumur rembesan terutama disyaratkan jika mendirikan jamban dengan tempat penampungan dan rembesan.
·         Menyediakan alat pembersih yang cukup sehingga dapat segera dipakai setelah dilakuakan buang kotoran.

Pengertian – pengertian terkait dengan kakus



a.       Pengertian sarana
Menurut kamus besar bahasa Indonesia ( Soenjono Dardjowidjojo et.al, 1990, h.784 ), pengertian sarana adalah :” Segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan tertentu ”.
b.       Pengertian Pembuangan
Menurut Sugiharto ( 1990, h.29 ), yang dimaksud dengan pembuangan adalah :” Suatu tindakan atau cara penyingkiran dengan memperhatikan syarat – syarat kesehatan ( health ), kebersihan ( clean ), dan keindahan  ( aesthetic ) ”.
c.         Pengertian Tinja
Menurut Udin Djabu, et.al ( 1990, h.29 ), yang dimaksud dengan tinja adalah :“ Bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia “.

Menurut Asrul Azwar ( 1995), pengertian kotoran manusia adalah :“ Segala benda atau zat yang dihasilkan oleh tubuh dan di pandang tidak berguna lagi sehingga dikeluarkan untuk dibuang “.Dalam ilmu kesehatan lingkungan dari berbagai macam kotoran manusia yang lebih dipentingkan adalah tinja (faeces) dan air seni (urine), sebab kedua bahan buangan tersebut memiliki karekteristik tersendiri dan dapat menjadi sumber penyebab berbagai penyakit pada pencernaan

d.  PengertianSanitasi
WHO (Suparlan, 1981, h. 3) yaitu: “Sanitasi adalah suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia terutama terhadap hal-hal yang mempunyai efek merusak perkambangan fisik, kesehatan dan kelangsungan hidup”.


Menurut Soebagio Reksosoebroto (1980,h.1). “Sanitasi adalah usaha kesehatan preventif atau usaha pencegahan penyakit yangmenitik beratkan usahanya baik secara individu maupun kesehatan lingkunan dimana individu tersebut berada”.



Menurut Azrul Azwar (1995,h.9) sanitasi didefinisikan sebagai berikut : “Sanitasi adalah kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan”.
  e. Pengertian sarana pembuangan tinja
Menurut Ditjen PPM dan PLP ( Indonesia, Depkes, 1985, h.2  ) yang dimaksud dengan sarana pembuangan tinja adalah :“ Suatu bangunan yang digunakan untuk membuang / mengumpulkan kotoran / najis manusia yang lazim disebut kakus atau WC, sehingga kotoran / najis tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman “. 

Menurut Azrul Azwar (1983, h. 4)“sarana pembuangan tinja adalah suatau bangunan khusus yang dibuat manusia untuk tempat membuang kotoran-kotoran manusia yaitu berak/tinja maupun air kencing”.

Menurut Dit. Jen. PPm dan PLP (Indonesia, Dep. Kes. 1984, h. 2) “Sarana pembuangan tinja adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan tinja/najis manusia yang lazim disebut kakus/WC, sehingga kotoran/najis tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman”

f. 
  

Metode Pembuangan Tinja



Metode Pembuangan Tinja
Menurut Wegner & Lanoix (Soeparman & Suparmin, 2001, h. 55), mengelompokan teknik pembuangan tinja kedalam dua kategori, yakni teknik yang menggunakan sistem jamban (privy method) dan teknik yang menggunakan sistem aliran air (water carried method).

Metode yang menggunakan jamban ( privy method )

Kategori I
Merupakan metode dengan tipe utama atau tipe yang paling dianjurkan, apabila dikerjakan secara semestinnya hampir memenuhi persayaratan sanitasi yang ada. Yang termasuk dalam kategori ini adalah:

Jamban Cubluk
Dengan perhatian  sedikit pada penempatan dan kontruksi, jenis jamban ini tidak akan mencemari tanah ataupun mengkontaminasi air permukaan serta air tanah. Tinja tidak akan dapat dicapai oleh lalat, bau diabaikan dan tinja tidak terlihat.
Jamban cubluk terdiri dari lubang dalam tanah yang digali dengan tangan, dilengkapi dengan lantai tempat berjongkok dan dibuat rumah jamban diatasnya. Lubang berfungsi untuk mengisolasi dan menyimpan tinja manusia sedemikian rupa sehingga bakteri yang berbahaya tidak dapat berpindah ke inang yang baru.

Jamban Air
Jamban air merupakan modifikasi jamban yang menggunakan tangki pembusuk. apabila tangkinya kedap air, maka tanah, air tanah dan air permukaan tidak akan terkontaminasi. Jamban air memerlukan penambahan air setiap hari agar dapat beroperasi sebagaimana mestinya.
Jamban air terdiri dari sebuah tangki berisi air, di dalamnya terdapat pipa pemasukan tinja yang tergantung pada lantai jamban. Tinja dan air seni jatuh melalui pipa pemasukan ke dalam tangki dan mengalami dekomposisi anaerobik seperti pada tangki pembusukan. Limpur hasil dekomposisi yang hanya mengandung sekitar 25 % dari volume tinja yang dimasukkan, akan berakumulasi dalam tangki dan harus dipindahkan secara berkala.

Jamban Leher Angsa
Jamban leher angsa atau jamban siram yang menggunakan sekat air bukanlah jenis instalasi pembuangan tinja yang tersendiri, melainkan lebih merupakan modifikasi yang penting dari slab atau lantai jamban biasa.
Jamban leher angsa terdiri dari lantai beton biasa yang dilengkapi leher angsa. Slab dapat langsung dipasang diatas lubang galian, lubang hasil pengeboran atau tangki pembusukan.

Kategori II
Merupakan metode jamban tipe yang kurang dianjurkan, karena kurang dapat dijamin akan terpenuhinya persyaratan sanitasi yang ada dan masih mengandung resiko yang cukup besar untuk terjadinya penularan faecal borne disiase. Yang termasuk dalam kategori ini adalah:

Jamban Bor
Jamban bor merupakan variasi dari jamaban cubluk yang lubangnya dibuat dengan cara di bor. Lubangnya mempunyai penampang melintang yang lebih kecil atau sama dengan diameter mata bor yang digunakan (10-30 cm) dan lebih dalam.
Jamban ini tidak mencemari tanah dan air permukaan dan menghindari penanganaan tinja segar. Bahaya lalat meningkat karena terjadi pencemaran pada permukaan dinding lubang bagian atas yang tepat dibawah lubang. Keruntuhan dinding lubang sering menjadi masalah gawat pada jamban bor. Jamban bor murah dan mudah dalam pembuatannya apabila tersedia peralatan yang diperlukan.

Jamban Keranjang
Sistem jamban keranjang biasanya menarik lalat dalam jumlah besar, tidak dilokasi jambannya, tetapi di sepanjang perjalanan ke tempat pembuangan. Pembuangan jamban sangat memungkinkan penanganan tinnja segar. Penggunaan jamban ini selalu ada bahaya terjadinya pencemaran tanah, air tanah dan air permukaan. Penggunaan jamban jenis ini biasanya menimbulkan bau serta pemandangan yang tidak sedap. Jamban ini dianjurkan pemakaiannya di daerah yang menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.

Jamban Parit
Jenis jamban ini dapat digunakan secara saniter atau sangat tidak saniter, tergantung pada kepatuhan pemakai pada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan. Lubang diatas tanah yang digunakan biasanya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 30x30 cm dengan kedalaman 40 cm. Tanah hasil galian ditumpuk disekitar lubang dengan harapan pemakai mau melemparkan tanah itu untuk menutup tinja yang telah dibuang.

Jamban Gantung
Jamban gantung sering digunakan pada daerah yang sering atau secara berkala tertutup air, terutama air laut atau di daerah pasang surut. Faktor penting yang harus diperhatikan adalah kadar garam, air penerima, kedalaman dan derajat pengenceran yang mungkin dicapai. Jenis jamban ini hanya dapat dipertimbangkan penggunaannya sebagai pilihan terakhir pada keadaan yang tidak biasa.

Kategori III
Merupakan tipe jamban yang baik diterapkan pada situasi-situasi khusus, misalanya pada sarana transportasi, pada daerah pertanian dan sebagainya. Yang termasuk jamban kategori ini adalah:

Kakus Kompos
Kakus kompos digunakan di daerah yang penduduknya suka membuat komposdari campuran tinja dan sampah organik (jerami, limbah dapur, potongan rumput dan sebagainya) di jamban yang digunakan.
Bila dibuat dan dioperasikan tidak secara semestinya jamban ini dapat menarik lalat yang dapat bertelur pada bahan isian, dapat timbul masalah bau dari penggunaan jamabn ini. Jamban kompos mudah pembuatannya tetapi memerlukan pengoperasian dan pemeliharaan.

Jamban Kimia
Jamban kimia merupakan instalasi pembuangan tinja yang efisien dan memenuhi semua kriteria jamban saniter, kecuali satu yaitu biaya. Jamban kimia terdiri dari sebuah tangki logam yang berisi    larutan soda kaustik. Tempat jongkok dan penutupnya ditempatkan langsung diatas tangki. Tangki dilengkapi dengan pipa ventilasi yang ujungnya menjorok samapai keatas rumah. Tangki dibuat dari campuran logam khusus yang tahan korosi dan mempunyai kapasitas kira-kira 500 liter untuk setiap tempat jongkok.

Jamban Kolam
Jamban ini dimanfaatkan oleh orang yang banyak mengusahakan kolam ikan. Tinja yang dibuang, secara langsung digunakan untuk makanan ikan yang dipeliharanya. Terjadi kontroversi dalam pemakaian jamban ini, karena disatu sisi usaha ternak ikan dapat ditunjang dengan teknik pembuangan tinja ini, namun disisi lain terjadi pencemaran bakteriologis pada air permukaan yang mengandung resiko besar terjadinya penularan penyakit melalui tinja dan air dari penderita kepada orang yang sehat.

Jamban Gas Bio
Jamban gas bio terdiri dari rumah jamban, tangki pencerna, penampung gas dan sistem perpipaan untuk menyalurkan gas bio dari tangki pencerna ke penampungan gas dan dari penampungan gas ke tempat pemakaian gas. Ke dalam tangki pencerna, setiap hari dimasukkan tinja, sampah organik yang berupa sampah daun dan kotoran kandang. Dalam tangki pencerna yang merupakan campuran bahan organik akan mengalami proses dekomposisi secara anaerobik dan menghasilkan gas bio.

Metode yang menggunakan atau memerlukan bantuan aliran air ( water carried method )
Berbagai metode yang termasuk dalam teknik pembuangan tinja dengan sistem aliran air adalah:
Pembuangan dengan pengenceran di badan air yang besar.
Sistem pembuangan ini memanfaatkan kemampuan alami dari air untuk melakukan pembersihan sendiri yang berdasarkan pada kemampuan dan jumlah oksigen terlarut pada air penerima.Oksigen itu bereaksi dengan bahan organik dalam limbah cair dan menstabilkannya dengan proses oksidasi. Bila tidak terdapat cukup oksigen pada air penerima atau volume air penerima kecil untuk memberikan sejumlah oksigen yang diperlukan, akan berlangsung dekomposisi secara anaerobik yang pada tahap tertentu akan mengakibatkan gangguan keseimbangan biologis normal pada lingkungan air. Air penerima akan menjadi kotor dan berwarna hitam serta faunanya, terutama ikan yang memerlukan oksigen untuk hidup akan hancur total.

Penggunaan kolam pembuangan.
Kolam pembuangan merupakan lubang tertutup yang menerima buangan limbah cair kasar. Kolam pembuangan dapat berupa tipe kedap air atau tipe rembes air. Pada keadaan tertentu kolam pembuangan dibuat kedap air dan digunakan untuk menampung limbah cair yang harus dipindahkan secara berkala kira-kira senam bulan. Tipe rembes air digali sampai ke lapisan tanah yang rembes air agar limbah cair yang masuk di dalamnya meresap ke dalam tanah. Bahan padat yang tertampung akan berakumulasi dalam lubang, dan secara berangsur-angsur akan menutup pori-pori tanah.

Penggunaan sumur peresapan.
Sumur peresapan menerima efluent dari jamban air, kolam pembuangan dan tangki pembusukan dan meresapkannya kedalam tanah. Sumur peresapan kadang-kadang digunakan untuk pembuangan limbah cair dari ruang cuci, kamar mandi dan dapur.
Sumur peresapan terdiri dari sebuah lubang bulat dalam tanah yang digali cukup dalam menembus 1,8 m atau lebih ke lapisan tanah yang berpori. Lubang biasanya dibuat dengan diameter 1-1,5 m dan kedalaman 2-5 m. dinding lubang diperkuat dengan pasangan bata atau batu kali tanpa adukan semen dibawah ketinggian pipa inlet. Lubang yang tidak memerlukan penguat dinding dapat diisi dengan batu kali. Sumur peresapan harus tertutup rapat yang akan mencegah masuknya nyamuk, lalat serta air permukaan.

Penggunaan sistem tangki pembusuk.
Sistem tangki pembusuk terdiri dari tangki pengendapan, ruang tunggal atau ruang ganda, diikuti bidang irigasi bawah tanah, parit penyaring, pasir penyaring atau penyaring tetes.
Pemilihan metode tersebut terutama bergantung pada derajat pengolahan limbah cair yang ingin dicapai, lokasi sistem dan faktor setempat lainnya dan terakhir faktor biaya. Faktor setempat yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan perencanaan instalasi pembuangan tinja antara lain mencakup sifat lapisan tanah, adanya dan tingginya serta arah aliran air, topografi, perkiraan penyediaan sumber air bersih, kuantitas limbah cair dan luas tanah yang tersedia untuk pekerjaan pembuangan.